Banyak orang mencari ‘Self-Healing‘ ke luar (kafe, belanja, staycation), tapi kenapa lelahnya seringkali cuma hilang sebentar, lalu kumat lagi? 😩 Nah lho… Jangan-jangan selama ini kita cuma sibuk mengobati gejala, bukan akar masalahnya. Kita sering terjebak dalam siklus “kerja-lelah-healing-bokek-kerja lagi” yang ujung-ujungnya bikin mental makin kering. End –
Padahal,
Kalau dipikir-pikir, fisik yang lelah bisa dibawa tidur, tapi kalau jiwa yang lelah, mau dibawa ke Maladewa sekalipun, rasa sesaknya tetap ikut masuk ke dalam koper.
Jumat pagi biasanya menjadi puncak dari segala drama kehidupan dalam seminggu. Mata sudah lowbat, fokus sudah mulai shaking, dan hati rasanya sudah ingin segera log out dari dunia pekerjaan. Kita seringkali merasa berhak atas sebuah “pelarian” sebagai bentuk apresiasi diri.
Namun, seringkali pelarian itu hanya berupa perpindahan rasa lelah dari meja kantor ke kemacetan menuju tempat wisata. Kita mengejar sunset demi sebuah foto estetik, padahal di dalam hati, matahari kita sendiri sedang redup-redupnya.
Mengira Self-Healing Itu Soal Pantai Atau Kopi Doang? Haaah 😧
Lucu memang melihat tren kekinian yang mendefinisikan ketenangan dengan harga secangkir artisan coffee atau tiket pesawat promo. Seolah-olah kedamaian batin adalah komoditas yang bisa dibeli dengan kartu kredit. Kita terjebak dalam gaya hidup frugal living tapi jebol di bagian self-reward karena merasa “butuh healing”.
Setelah pulang dari liburan yang katanya menyembuhkan itu, kita justru butuh liburan lagi untuk memulihkan diri dari rasa lelah akibat perjalanan tersebut.
Ini menunjukkan bahwa banyak dari kita yang mengalami disorientasi dalam mencari makna ketenangan. Kita mencari validasi dari pemandangan indah atau suasana baru, tapi lupa bahwa batin kita sebenarnya tidak butuh pemandangan, melainkan sandaran.
Kita sibuk mengisi feed media sosial dengan momen “bahagia”, sementara di dunia nyata, kita kehilangan koneksi dengan diri sendiri dan Sang Pencipta. Kesenjangan inilah yang membuat healing versi modern seringkali terasa hambar dan bersifat sementara.
Jika dipikirkan kembali dengan kepala dingin, mustahil sesuatu yang bersifat material bisa menyembuhkan sesuatu yang bersifat spiritual. Lelahnya jiwa tidak akan pernah tuntas hanya dengan pijatan spa atau wangi aroma terapi.
Ada sebuah ruang kosong (Self-Healing) dalam dada yang hanya bisa diisi oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar kesenangan duniawi. Sebelum kita benar-benar kehilangan ‘sesuatu itu’, ada sebuah wejangan yang sering kita lewati setiap minggu.
5 Pokok Mengapa Sujud Lebih Penting Dari Liburan
Sebagian besar dari kita mungkin memandang hari Jumat hanya sebagai “pintu masuk” menuju akhir pekan. Padahal, dalam literatur Islam, Jumat disebut sebagai Sayyidul Ayyam atau penghulunya hari. Ini bukan sekadar hari untuk memotong kuku atau memakai wangi-wangian, melainkan momen reboot paling canggih yang pernah diciptakan untuk manusia.
Sujud di hari Jumat, terutama bagi kaum laki-laki di momen salat jemaah atau bagi siapa saja di sepertiga malam dan setelah Ashar, memiliki daya magis yang tidak bisa ditemukan di destinasi wisata mana pun.
*Perbaiki jika salah atau kurang: Ustad Abdul dan Ustad Adi ☺️*
Nah, ini beberapa pokok alasan mengapa posisi paling rendah ini justru menjadi titik tertinggi dalam proses penyembuhan diri:
1. Thumaninah
Keheningan di Tengah Hiruk Pikuk Dalam salat, ada unsur thumaninah atau ketenangan. Ini adalah bentuk mindfulness yang paling murni. Saat sujud, kita dipaksa untuk berhenti total dari segala aktivitas. Gerakan ini menurunkan tekanan ego dan memberikan jeda pada otak yang terus-menerus dihantam notifikasi.
2. Istijabah
Waktu Mustajab yang Tersembunyi Hari Jumat menyimpan Sa’atul Istijabah, sebuah waktu singkat di mana doa tidak akan tertolak. Bayangkan memiliki akses langsung untuk mengadu kepada Pemilik Semesta di saat semua pintu konsultasi manusia sudah tertutup atau berbayar mahal.
3. Muhasabah
Evaluasi Tanpa Penghakiman Sujud adalah momen paling jujur untuk melakukan muhasabah (introspeksi). Di sana, kita tidak perlu berakting kuat atau sukses. Kita mengakui segala kelemahan di hadapan Allah, dan pengakuan itulah yang sebenarnya meruntuhkan beban mental yang selama ini kita pikul sendirian.
4. Tazkiyatun Nafs
Detoksifikasi Jiwa dari Penyakit Hati Jika liburan mendetoks mata dari pemandangan beton, maka sujud melakukan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Rasa iri, dengki, dan ambisi berlebih yang membuat kita stres perlahan luruh saat dahi menyentuh lantai, mengingatkan bahwa kita hanyalah hamba yang kecil.
5. Barakah
Ketenangan yang Melampaui Logika Hasil dari sujud bukan sekadar rasa rileks, tapi barakah (keberkahan). Berkah artinya bertambahnya kebaikan. Pulang dari masjid atau bangkit dari sajadah, masalah kita mungkin belum selesai, tapi hati kita diberikan kelapangan untuk menghadapi masalah tersebut dengan sudut pandang yang baru.
Ruang Konsultasi Paling Privat Tanpa Takut Dihakimi
Ada sebuah pengalaman yang sering kali dirasakan namun sulit dijelaskan dengan kata-kata, termasuk penulis sendiri. Pernahkah kita merasa sangat sesak oleh sebuah masalah yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada sahabat karib atau pasangan? Rasanya seperti membawa benda yang sangat berat di dalam dada.
Di sinilah sujud mengambil perannya sebagai ruang konsultasi paling privat. Saat kita bersujud, kita berada dalam posisi paling rendah secara fisik, namun secara spiritual, kita sedang membisikkan rahasia ke bumi yang kemudian didengar oleh penduduk langit.
Banyak orang bercerita betapa ajaibnya momen ketika mereka “tumpah” di atas sajadah. Tidak ada interupsi, tidak ada penilaian sinis, dan tidak ada rahasia yang akan bocor. Di sana, kita bebas menangis sekencang-kencangnya tanpa perlu merasa malu atau dicap lemah.
Inilah deep talk yang sebenarnya.
Ketika semua kata-kata sudah habis dan hanya tersisa isak tangis dalam sujud, saat itulah kesembuhan batin mulai bekerja secara sistematis.
Menariknya,
Beban yang tadinya terasa seberat gunung seringkali mendadak terasa ringan setelah sujud yang panjang. Padahal, secara logika, solusinya belum ketemu. Namun, rasa tenang yang hadir itu nyata. Kita seolah baru saja meletakkan ransel penuh batu yang selama ini kita gendong ke pundak Sang Maha Kuasa.
Inilah yang membuat kita sadar bahwa healing bukan soal seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa dalam kita berserah.
Hanya Sejauh Jarak Dahi ke Sajadah
Semua sepakat bahwa liburan memang menyenangkan, tapi ia bukan obat untuk jiwa yang gersang.
Kita boleh saja merencanakan perjalanan ke mana pun, tapi jangan sampai lupa bahwa tempat pulang yang paling menenangkan justru berada di dalam rumah kita sendiri, di atas selembar kain sajadah. Ketenangan yang kita cari-cari di luar sana sebenarnya sudah tersedia gratis, setiap waktu, terutama di hari Jumat yang penuh berkah ini.
Ubah pola pikir kita.
Jangan biarkan diri kita terus-menerus terjebak dalam rasa lelah yang tak berujung hanya karena salah mencari tempat bersandar.
Mulailah memberikan hak bagi jiwa untuk beristirahat dengan cara yang benar. Ingatlah, bahwa kesembuhan sejati itu dekat, sangat dekat, bahkan hanya sejauh jarak dahi ke sajadah. #JumatBerkah #SelfHealing #Muhasabah #FridayVibe
PoV-Nya: Jangan terlalu sibuk mencari ketenangan ke tempat yang jauh, sampai kamu lupa bahwa Tuhanmu telah menyediakan ruang tunggu yang paling nyaman dalam sujudmu.
Terima kasih Tuhan 😔…
Salam Dyarinotescom.
